Belajar Ngaji di Jerman

Sebelum hijrah ke Jerman, saya nggak pernah mikir gimana caranya meng-upgrade ilmu agama saya. Dulu mikirnya yang penting bisa menginjakkan kaki aja di Jerman. Karena itu adalah keinginan saya sejak SMA. Sadar sesadar-sadarnya klo Jerman adalah negara maju dengan mayoritas penduduk non muslim. Udah tau juga klo beberapa daerah di Jerman itu masih banyak yang rasis terhadap orang asing. Jadi yang terpikir cuma yang penting tetap bisa berhijab dan menjalankan ibadah-ibadah wajib aja. Nggak pernah mikir untuk belajar ngaji lagi di Jerman.

Time flies, tinggalnya juga udah nggak di Inzighofen, sebuah desa kecil di sudut negara bagian Baden-Württemberg tempat saya pertama kali menetap di Jerman. Long story short saya menikah dan menetap di Kota Stuttgart yang merupakan ibukota dari negara bagian Baden-Württemberg. Banyak orang Indonesia disini. Nggak cuma yang menikah dengan orang asing, tapi juga mahasiswa dan orang-orang Indonesia  lainnya yang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negara modern ini.

Ada banyak jenis-jenis pengajian di Stuttgart. Ada Ngaji Pemudi, Ngaji Stuttgart, Ngaji Pemuda, Tahsin, TPA anak-anak, Pengajian Reutlingen, pengajian ibu-ibu khusus istri bule (lupa namanya 😀 ). Tinggal pilih aja yang mana yang cocok dengan waktu masing-masing. Nggak cuma belajar agama, momen ngaji bisa jadi pengobat rindu terhadap kuliner Indonesia. Apalagi buat anak-anak kos yang hampir nggak pernah masak. Itung-itung perbaikan gizi karena pastinya klo ngaji itu banyak banget aneka jenis makanan Indonesia mulai dari makanan pokok sampe aneka jenis kue. Selain itu juga, mengikuti pengajian juga menjadi wadah silaturrahmi antar sesama saudara sebangsa dan setanah air. Rasanya beda lho ketemu dan kumpul bareng orang-orang Indonesia di Eropa. Berasa ketemu saudara. Nggak ada istilah 01 dan 02.

Ini foto waktu liwetan menymbut puasa

Tadinya saya berpikir nggak terlalu penting ngaji-ngaji lagi. Di era digital gini juga nggak sulit kan belajar dari dunia maya. Tinggal klik aja di layar telepon seluler, udah ketemu jawabannya. Ternyata salah besar. Belajar melalui internet dan belajar secara langsung bertatap muka itu berbeda. Belajar di dunia nyata banyak sekali manfaatnya. Apalagi belajar ilmu agama yang sangat sensitif, nggak bisa cuma ambil keputusan sendiri hanya dengan dengar ceramah di youtube. Kita juga perlu pendapat orang yang nyata ada di hadapan kita.

Salah satu pengajian yang saya ikuti adalah Ngaji Pemudi. Dulu pengajian ini udah pernah ada, lalu vakum. Setahun yang lalu kembali diaktifkan sama beberapa pengurusnya, bukan saya karena saya cuma pengikut setia. Dimana ada pengajian saya selalu ikut 😀 Pengajian ini khusus untuk perempuan U40, kecuali pengurusnya ya. Kebanyakan sih mahasiswa atau yang masih sekolah gitu. Tapikan saya masih muda ya, baru juga masuk 30-an dan gaul sama siapa aja 😀 Lagian saya juga dimasukin temen ke grup ini. Tiba-tiba muncul aja ini grup di Whatsapp saya. Yang namanya untuk kebaikan ya nggak apa-apa.

Karena anggotanya kebanyakan mahasiswa, jadi tempat ngajinya ya itu-itu aja. Cuma ada beberapa rumah yang bisa ditempati untuk ngaji setiap bulannya. Dan ngaji di Jerman itu nggak ada pungutan-pungutan biaya. Soal konsumsi jg nggak ada iurannya. Sama-sama ikhlas aja.

Cerita yang saya bagikan kali ini adalah waktu ngaji di rumah kak Shanie, salah satu pengurus Ngaji Pemudi. Rumahnya di Esslingen, agak keluar sedikit dari Stuttgart. Tapi nggak terlalu jauh. Naik kereta RE cuma dua stasiun aja, nyambung lagi sih naik bus sekitar 10 menitan.

Nunggu bus, ketemu si kembar Ela & Eli

Pengajian kali ini masih belajar tentang tajwid dan makhrajul huruf. Berasa udah paling bener baca al-qur´annya, setelah ketemu guru ahlinya dari Rumah Tajwid Luar Negeri taunya banyak yang nggak pas 😀 Beruntung banget kan bisa diajarin makhrajul huruf gratis sama guru dari Rumah Tajwid. Ini kesempatan langka karena klo ikut kelasnya harusnya bayar.

Lagi khusu’ baca qur’an nih

Pembukaan, baca al-qur’an, belajar dan latihan makhrajul huruf diselingi becanda-becanda, solat berjama’ah dan masuklah ke sesi yang paling dinanti-nantikan yaitu makan-makan. Menunya juga enak sekali, lontong Jakarta, es campur dan kue-kuenya. Sambil makan sambil curhat-curhatan. Maklum, bagi yang tinggal sendiri di Jerman itu nggak mudah. Kadang bisa tiba-tiba galau. Kebanyakan bukan soal cinta, tapi tesis yang cukup menyita pikiran dan tenaga. Ada juga sih yang galau belum ketemu jodoh tapi ditanyain terus sama keluarga di Indonesia. Disini rasanya tepat untuk curhat-curhatan. Nggak ada yang nge-judge. Juga ada ustadzahnya yang menjadi tempat yang pas dan ngademin klo ngasi nasehat.

Yang dinanti-nanti, sesi makan 😀

Selesai makan sebagian pada pulang karena berbagai urusan dan karena ada juga yang tinggalnya jauh. Sebagian masih tinggal. Sambil cemal-cemil ngelanjutin sesi curhat yang dikemas dengan jenaka. Apalagi ada ibu ratu Evy Polat yang selalu ceria dan bikin semua orang ketawa-tawa 😀 Sampe nggak kerasa dua jam lagi udah tengah malam dan terpaksa harus pulang. Tapi nggak lupa cuci piring dan beberes dulu rame-rame (biasanya sih mahasiswa yang ngerjain ini) supaya yang punya rumah nggak repot lagi beberes.

Cekrek didalam kereta

Indahnya ngaji di Eropa. Mungkin klo di Indonesia saya nggak akan ikut-ikut yang beginian, nggak pernah kepikiran juga. Nonton aja Mama Dedeh atau Ustadz Maulana setiap pagi, dirasa udah cukup untuk keseimbangan rohani. Juga masih banyak pilihan-pilihan ustadz lainnya di pertelevisian Indonesia. Banyak juga kan acara-acara tabligh akbar yang belakangan marak dilaksanakan. Atau yang paling umum sejak dahulu kala, yasinan setiap jum’at. Tapi semua itu esensinya berbeda. Memperdalam ilmu agama di negeri minoritas muslim itu cobaannya luar biasa. Nggak mudah dan banyak juga muslim disini yang nggak punya kesempatan itu.

Segitu aja ya! Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya.

0



2 Comments

Wah seru banget mba 🙂 semoga saya bisa segera kesana untuk menuntut ilmu atau sekedar berkunjung hehe. Thanks for sharing mba ditunggu cerita-cerita menarik tentang jerman lainnya

Reply

Insyaallah bisa ke Jerman suatu hari nanti 🙂

Reply
Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog