Jalan-jalan ke Kota Tua Tübingen Nggak Pake Masker Lagi, Jerman Bebas Corona?

Setelah sekian lama ngerem di rumah, akhirnya keluar kandang lagi. Iya, saya lagi kumat males ke luar rumah. Ini diajakin si mas jalan-jalan. Sebenernya males, tapi kata si mas klo di rumah terus malah bikin penyakit. Yowes lah ikut aja. Jalan-jalan ke kota tua Tübingen nggak pake masker lagi, Jerman bebas corona?

Kali ini tujuannya adalah Kota Tübingen. Kota ini berjarak sekitar 30 km dari tempat tinggal kami. Nggak nyampe satu jam sih untuk nyampe ke sini klo naik mobil. 45 menit cukup lah. Berangkat dari rumah jam setengah dua karena nanggung nunggu solat zuhur dulu. Lagian ya ini kan musim panas, terangnya sampe jam 10 malam.

Sejak awal Juni lalu Jerman perlahan memang sudah mulai melonggarkan berbagai aturan. Lockdown berjilid-jilid selama 7  bulan berturut-turut sejak awal November lalu sudah dihapus. Masker juga sudah tidak diwajibkan lagi saat berada di luar ruangan. Nggak heran kalau Tübingen hari itu rame dan padat. Ditambah lagi cuacanya bagus, matahari seolah paham betul soal kerinduan masyarakat Jerman terhadap vitamin D nya.

Setelah parkir mobil di gedung parkir, kami pun mulai menjelajah. Kami parkir di kawasan Kota Tua Tengah. Setelahnya kami melihat sekerumunan orang jualan. Saya kira itu pasar tradisional, ternyata bukan.

Lanjut jalan lagi, ketemu musisi jalanan. Saya nggak tau persis musik apa yang dimainkan. Yang pasti musiknya sangat nyaman melewati gendang telinga saya. Bikin nagih sih lebih tepatnya. Sayangnya si mas nggak mau berhenti. Jadi kami lanjut jalan lagi.

Musisi jalanannya itu yang ada tas item di depannya. Kejauhan sih ngambil fotonya

Ngeliat orang-orang nikmat sekali ngejilatin es krim, kok jadi nular ya rasa nikmatnya. Jadi bikin pengen aja. Langsung ke tempat jual es krim terdekat. Eh nggak taunya yang ngantri udah bukan mengular lagi, tapi ularnya sekeluarga 😀 Nggak jadi lah kami makan es krim di tengah cuaca terik ini.

Jalan terus dan terus akhirnya ketemu jembatan yang dibawahnya mengalir Sungai Neckar dan disisi satunya berjejer rumah-rumah khas abad pertengahan, sementara sisi satunya adalah taman kota tempat warga santai-santai manja dan piknik.

Icon Kota Tua Tübingen

Pastinya banyak orang mengambil foto dari jembatan ini. Dibawah sana juga banyak perahu hilir mudik. Sementara di dinding sungai juga banyak orang duduk-duduk santai menikmati unlocked life yang baru berjalan sebentar ini. Semoga nggak ada lockdown-lockdown lagi.

Belum juga lama jalan-jalan di Kota Tua Tübingen ini, eh perut udah keroncongan aja. Si mas pun sama. Kok bisa ya? Tandanya mungkin kami berjodoh 😀

Di dekat jembatan ini ada restoran Turki namanya Restoran Istanbul. Langsung cari aman aja ya kan karena klo makan di restoran lokal kan kita nggak tau jelas bahan-bahannya apa-apa aja. Yah seenggaknya di Retoran Istanbul ini nggak ada menu yang mengandung babinya. Jadi aman lah ya.

Restoran Istanbul Tübingen

Oya, sekarang di Jerman juga udah boleh makan di dalam restoran setelah setahunan lebih dilarang dan cuma bisa take away. Sebelum-sebelumnya sih harus bawa hasil tes cepat bebas corona yang berlaku 24 jam. Tapi ini kok nggak ada tulisannya, nggak ditanya juga.

Saya pesan ayam bakar yang dicucuk-cucuk kek sate gitu, salat dan roti Turki. Si mas pesan dönner teller atau kebab yang disajikan di piring. Rasanya sama aja sih kek makanan di restoran Turki kebanyakan di Jerman lainnya.

Menu makanan kami di Restoran Istanbul

Penghuni perut udah nggak demo lagi ya. Dah kenyang, jadi aman buat jalan-jalan lagi. Dari jembatan kami melihat ada bangunan seperti istana. Langsung aja kami jalan kesana. Jalannya tanjakan. Panas-panas gini jalan kaki menanjak, pastinya panen keringat.

Belum nyampek ke istana, eh jalannya malah ditutup. Ternyata itu adalah milik pribadi, jadi nggak bisa dilewatin untuk umum. Setelah nanya ke orang, ternyata bangunan itu memang bekas istana. Sekarang dipake sama mahasiswa-mahasiswa keturunan raja dari berbagai negara. Tepatnya kos-kosan keturunan royal family.

Bangunan paling atas yang cuma keliatan setitik itu dia bekas istananya.

Setelah melewati jalan menanjak, pastinya capek. Cocoknya sih santai-santai aja ya. Akhirnya kami memutuskan untuk wisata air, naik perahu menyusuri Sungai Neckar. Disini banyak orang dan bener-bener padat. Seolah-olah corona nggak pernah mampir.

Mau ikut wisata perahu ini awalnya agak bingung karena nggak ada loket pembayarannya. Kami langsung aja turun ke pinggir sungai tempat perahu-perahu di parkir. Terus ada bapak-bapak tua yang nanyain. Ya udah langsung daftar, terus disuruh nunggu dulu.

Perahu wisata Sungai Neckar, Tübingen

Tapi nggak disuruh bayar. Pas orangnya udah cukup, satu per satu kami disuruh naik. Rupa-rupanya bapak ini yang jadi nakhodanya. Jalanin perahunya cuma pake bambu runcing. Eh salah deng, bambu panjang maksudnya 😀 Bambu runcing hanya milik pejuang kemerdekaan. Ya kan…!!!

Sambil jalanin perahu bapak ini juga bercerita tentang sejarah Kota Tübingen. Orangnya ada lawak-lawaknya juga. Lumayan menghibur. Pas nanya kok nggak disuruh bayar dulu. Eh dia malah jawab, bayar cuma klo selamat aja. Klo nggak selamat ya nggak usah bayar. Kedengeran lucu sih, tapi nyeremin juga seolah-olah ada kemungkinan perahu terbalik. Untungnya dia langsung nambahin klo selama ini perahu yang dia bawa belum pernah terbalik ataupun kecelakaan. Tenang jadinya hati adek bang 😀

Nakhoda perahu wisata. Keliatan udah tua, tapi segar bugar dan kuat

Di dalam perahu ini ada 15 orang, 6 orang anak-anak dan sisanya orang dewasa. Sepanjang jalan saya perhatikan ada perempuan tua, muda, anak kuliahan juga yang bawa perahu wisata ini. Jadi saya simpulkan klo semua orang bisa jadi nakhoda perahu wisata ini buat kerja sampingan. Tapi kata bapak ini, waktu masih lockdown dia benar-benar nggak ada pemasukan karena kerjanya ya memang dari kapal wisata ini.

Naik perahu wisata ini berlangsung selama satu jam. Tapi satu jam itu benar-benar nggak terasa. Harmoni kesatuan kicauan burung, suara air, riuh angin dari pepohonan, suara orang-orang rame yang udah lama nggak kedengeran juga suara bapak ini yang sibuk jelasin tentang Tübingen asli bikin waktu berlalunya itu bukan jalan lagi, tapi maraton.

Pemandangan dari perahu kami

Oya, warna airnya memang kopi susu karena beberapa hari belakangan Jerman dilanda hujan deras, angin kencang, badai dan petir. Tapi dijamin nggak ada sampah di sungai ini. Bebek-bebek aja betah berendam seharian disini.

Nyampek ke titik kumpul tempat perahu-perahu wisata di parkir, satu per satu penumpang pun turun. Pastinya bayar dulu sebesar 12 euro atau sekitar 200 ribu rupiah. Bapak ini percaya aja ya sama orang, belum bayar udah diajak naik perahu. Tapi nggak ada yang melarikan diri juga sih.

Jalan-jalan di Kota Tua Tübingen masih lanjut lagi. Tapi ceritanya disambung di artikel berikutnya ya. Stay tuned!

0



2 Comments

Wah kuat banget ya perekonomian Jerman sampai berbulan-bulan lockdown. Kota tuanya bagus.
Semua warga berarti sudah di vaksin ya mbak krn sudah bebas.

Reply

Nggak kuat banget juga sih, tapi ya lebih baik daripada Indonesia. Belum semua divaksin. Vaksin masih bagi yang mau aja, belum ada keharusan dari pemerintah.

Reply
Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog