Berdamai dengan Mertua

Di tahun kedelapan pernikahan ini saya ingin berdamai dengan masa lalu, termasuk berdamai dengan mertua yang secara kasat mata kami nggak pernah ribut apalagi adu mulut. Niat ini sebenarnya udah ada dari tahun-tahun sebelumnya dan sering kami bicarakan (saya dan suami).

Ngomonginnya gampang, tapi melakukannya sulit karena perbedaan usia saya dan makmer yang cukup jauh serta prinsip hidup yang sangat berbeda.

Berontak

Saya masih sangat ingat kapan pertama kalinya saya memberontak besar-besaran soal peraturan dalam pernikahan kami yang dulu banyak sekali campur tangan makmer. Juni 2017, tepatnya setelah lebaran.

Jadi dulu keluarga Mr. Ottoman, khususnya makmer membrain wash Mr. Ottoman supaya melarang saya berteman dengan orang Indonesia. Padahal di Stuttgart tempat saya tinggal itu banyak sekali orang Indonesianya dengan aneka model perkumpulannya. Dan sampai tahun 2017 masih saya turuti dengan harapan mereka bisa berubah dan sadar. Saya cuma punya satu teman Indonesia saat itu, yaitu kak Evy karena suaminya juga Turki. Ketemunya juga bisa dihitung jari.

Bareng kak Evy

Begitu juga soal makanan. Terdengar sepele sih, cuma makanan. Tapi have you ever feel ketika dilarang makan makanan dari negaramu karena alasan mahal yang tujuan sebenernya itu mereka maunya saya makan makanan Turki aja. Apalagi makmer, dia nggak mau anaknya terkontaminasi makanan diluar makanan Turki. Jadinya saya itu belanja makanan Indonesia cuma 3 bulan sekali secara online dan terbatas juga.

Memang makmer tinggalnya jauh dari kami tapi kalian yang nggak pernah berhubungan khusus sama orang Turki tidak akan tau bagaimana powerfulnya emak-emak Turki mendoktrin anak-anaknya khususnya anak laki-laki yang sampai kapanpun dibuatnya seperti bayi.

2017 di minggu terakhir ramadan kami ke Turki dan berlebaran disana. Bagi yang sering mampir ke blog saya pasti tau tragedi angkat pasir di tahun ini, tragedi yang memicu pemberontakan saya. Intinya pulang dari Turki kami ribut besar sampai-sampai mau cerai. Yes, kami mau berpisah karena saya nggak tahan dengan kelakuan makmer dan Mr. Ottoman juga nggak bisa tegas ke emaknya.

Kenapa nggak bisa/boleh ngobrolin ini ke emaknya? Karena dia anak, apalagi anak terakhir. Sama sekali nggak punya power dalam keluarga Turki dan hanya boleh manut aja. Kalau membangkang artinya durhaka. Prinsip ini yang saya tentang dan saya tidak mau menjalankan ini juga kedepannya dalam keluarga kami.

Saya mulai berpikir kalau saya tidak boleh lemah dan kalah. Ini rumahtangga saya, tidak ada yang boleh ikut campur berlebihan didalamnya termasuk makmer. Lemah, diam dan menangis di pojokan sama sekali tidak mencerminkan orang Medan. Saya harus bertindak tegas untuk diri saya sendiri.

Pulang dari Turki saya hubungi kak Evy dan dari dia saya tau ada acara halal bi halal orang Indonesia di Stuttgart. Saya datang sendirian kesana dan happy. Pulangnya saya post foto-fotonya di facebook supaya Mr. Ottoman dan keluarganya liat pemberontakan dan kebahagiaan saya.

Halal Bi Halal 2017

Aku nggak mau pulang ke Indonesia tinggal nama karena tertekan batin dengan tingkah ibu kamu. Klo kamu nggak perduli dengan kebahagiaanku, setidaknya aku masih punya keluarga di Indonesia yang perduli dengan kebahagiaanku. Silahkan kamu cari perempuan Turki dan kamu tidak akan menemukan perempuan seperti saya.

Kalimat terakhirnya itu lho yang klo diingat-ingat kok ya bener. Ya memang nggak ada perempuan seperti saya 😀 Orang kembar aja pasti nggak sama 100 persen. Tapi sebenernya yang saya maksud itu, nggak ada perempuan Turki yang mau menemaninya dari nol. Bukan nol lagi, tapi minus dan ini dia sendiri yang pernah bilang. Dan saya menerima dia disaat dulu dia minus-minusnya.

Lalu apa salahnya sekarang dia membahagiakan saya dengan travelling yang sering buat makmer gerah karena dianggap buang-buang duit.

Nggak tau kalimat mana yang membuat Mr. Ottoman tergugah. Pembicaraan kami sangat panjang dan seketika perubahan besar pun terjadi dalam tatanan rumahtangga kami. Saya bebas berteman dengan siapa saja, kapan aja belanja ke toko Asia bahkan dikasi uang lebih.

Mr. Ottoman juga ikut ke pengajian Indonesia. Seenggaknya dengan ngumpul sama orang Indonesia, pikirannya bisa tercerahkan bahwa dunia ini bukan miliknya orang Turki saja.

Pasca 2017 dan mental abuse

Pasca 2017 bukan berarti semuanya aman-aman saja. Makmer tetap seperti biasa tapi saya ikuti cara yang sama, BRAIN WASH. Dulu saya masih bingung bagaimana caranya mengkomunikasikan masalah ini sama Mr. Ottoman karena itu ibunya. Jangan sampai juga dia durhaka dan saya ikut-ikutan dosa. Tapi disisi lain saya juga nggak mau terus-terusan tertekan batin.

Masih banyak gesekan yang terjadi walaupun nggak semasif dulu. Tapi namanya orangtua itu ya nggak bisa juga cepat berubah dan bahkan cenderung sulit di usia makmer yang udah 80-an.

Sampai akhirnya saya membaca sebuah tulisan tentang mental and emotional abuse. Dan saya yakin apa yang mereka lakukan ke saya adalah mental abuse. Secara tidak langsung mereka merusak mental saya dengan paksaan tidak langsung ke Mr. Ottoman agar saya bisa seperti mereka. Bisa berbahasa Turki padahal kami tinggal di Jerman dan kami tidak punya masalah komunikasi. Melarang saya makan makanan Indonesia. Menyuruh dan cenderung memaksa saya menjahit padahal saya tidak tertarik, tapi tetap saya belajar dan usahakan waktu itu. Bahkan makmer bilang uang belanja saya kebanyakan karena dengan 10 euro dia bisa belanja untuk seminggu.

Nggak usah pulang ke Indonesia, pulang lima tahun sekali aja, mamak saya nggak boleh ke Jerman karena ngabis-ngabisin duit, nggak boleh ngirim duit ke mamak saya karena menurut makmer waktu itu kami masih kekurangan duit. Penghasilan saya harus kasih ke Mr. Ottoman dan saya nggak perlu pegang duit. Semuanya di paragraf ini nggak saya gubris dan bahkan waktu itu saya bilang ke makmer kalau dia nggak berhak mengatur rumahtangga kami. Yang ini terjadi pasca 2017.

Emosi saya juga saat itu jadi tidak stabil, saya bisa tiba-tiba menangis di pojokan. Padahal saat itu kami tidak bertengkar, tapi saya merasa tertekan dengan hidup saya. Mau cerita ke keluarga di Indonesia juga nggak mungkin.

Kami kembali melakukan deep communication setelah ribut gara-gara makmer pastinya dan saya bilang ke Mr. Ottoman bahwa keluarganya sudah melakukan mental and emotional abuse. Saya tidak akan biarkan itu terjadi lagi karena saya perduli dan mencintai diri saya sendiri. Saya mampu menghidupi diri saya sendiri dan dia boleh balik kebawah ketek emaknya. Seriusan saya bilang dengan jelas, kamu balik aja kebawah ketek emakmu. Tinggal sana sama emakmu, kelonan sama emakmu. Sangking keselnya saya.

Nggak tau entah siapa yang nasehatin atau memang ini adalah jawaban dari doa-doa saya, Mr. Ottoman minta maaf soal apa yang terjadi dan sudah menyebabkan luka yang sangat dalam di hati saya.

Surgamu memang ada pada ibumu dan surgaku ada padamu. Tapi laki-laki yang paling baik adalah laki-laki yang paling baik terhadap istrinya. Allah tidak hanya murka karena menangisnya seorang ibu, tapi juga airmata seorang istri.

Itu yang saya ucapkan ke Mr. Ottoman. Saya tau dia ada di posisi yang sulit. Dia bilang saya wanita berpendidikan yang menurutnya bisa mengalah dan memahami kelakuan aneh ibunya. Yes, dia sendiri mengakui ibunya memang sulit memahami budaya baru dan cenderung tidak mau menerima. Karena dia tidak punya pengalaman soal pernikahan, ibunya adalah role model seorang istri dan langsung saya jawab, saya tidak mau seperti ibumu dan jangan pernah sama-samakan saya seperti ibumu.”

Mr. Ottoman juga cerita klo dulu ibunya juga mengalami hal yang sama seperti saya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena mertuanya keras. Berarti ini adalah akhlak turunan dari neneknya Mr. Ottoman dan harus saya hentikan. Saya juga nggak akan melakukan hal semacam ini ke menantu saya kelak.

Selain itu, makmer dan keluarganya dulu beremigrasi ke Jerman untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tapi mereka tidak berintegrasi dengan masyarakat lokal dan menurut Mr. Ottoman beremigrasinya mereka itu juga cukup menyulitkan emaknya. Datang ke negara baru yang dia nggak paham bahasanya. Karena kehidupan yang sulit itulah membuat emaknya begitu. Katanya sebenernya emaknya nggak bermaksud menyakiti saya, dia cuma ingin kami nggak hidup susah.

Kalau pulang ke Indonesia tiap tahun kan butuh uang banyak, belanja hemat dan nggak usah makan makanan Indonesia supaya uangnya ditabung. Dia bilang saya tidak perlu memikirkan apa yang emaknya bilang. Toh dia selalu memberikan apa yang saya mau selama dia mampu.

Selama ini hidup kita bahagia jika itu hanya soal aku, kamu dan keluarga saya. Bahkan di hari-hari biasa kita lebih banyak tertawa daripada diam. Tapi jika ibumu sudah beraksi, semuanya berubah. Jika kamu tidak bisa merubah ibumu, saya akan pergi dari hidup kamu. Ini bukan soal cinta atau tidak cinta, tapi soal kesehatan jiwa.

Itu yang saya ucapkan selanjutnya. Entah kapan dan bagaimana caranya Mr. Ottoman bicara ke keluarganya dan ibunya, setelah obrolan itu asli nggak ada satupun dari keluarganya yang nanya-nanya lagi kenapa saya masih belum bisa Bahasa Turki. Juga tekanan-tekanan lainnya seperti dulu. Saya bener-bener merasakan perubahan itu.

Berdamai dengan mertua

April lalu sebelum Jerman lockdown, makmer datang ke Jerman. Seperti biasanya karena kami yang tinggalnya di kota, makmer mengunjungi kami terlebih dahulu dan menginap beberapa hari.

Sebelumnya Mr. Ottoman udah bilang supaya saya lebih bersabar menghadapi emaknya dan tolong jangan terbawa emosi dengan tingkah emaknya yang biasanya berujung keributan antara saya dan Mr. Ottoman yang terjadi setelah emaknya pergi dari rumah kami.

Makmer kali ini beda donk. Dia nggak sibuk kesana kemari ngebongkar ini itu. Dia selalu tanya ke saya kalau dia mau ngapa-ngapain. Duh kok setelah makmer berubah gini saya jadi gimana gitu.

Memang sebelum emaknya datang saya dengar Mr. Ottoman bilang ke emaknya, “Tolong jaga perasaan istri saya juga. Dia cuma punya saya disini.” Nggak sengaja dengar waktu mereka telponan dan itu menandakan Bahasa Turki saya ada kemajuan 😀

Kali ini makmer nggak bikin emosi saya naik kok walaupun dia buang dua teflon saya karena menurut dia udah nggak layak pakai. Kalau kalian pernah tonton vlog saya, ada satu vlog masak ikan kembung rebus sambel pete cabe ijo. Nah, teflon itu yang dia buang sama satu teflon besar. Silahkan nilai sendiri apa teflon itu udah bener-bener nggak layak pakai. Tapi setelahnya langsung dibeliin yang baru sama Mr. Ottoman. Saya nggak dikasi jeda buat ngamuk 😀

Ramadan yang lalu waktu bukber di rumah abang ipar saya, makmer juga pesan ke Mr. Ottoman supaya saya bawa makanan saya sendiri. Dari dulu makmer tau kok saya nggak suka makanan Turki, tapi nggak pernah tuh makmer nyuruh saya bawa ataupun buat makanan sendiri. Biasanya tetap disuruh makan makanan buatan dia. Bahkan dulu, tahun 2015 saya cuma goreng telur dadar aja dipelototin. Tahun lalu waktu ke rumah makmer saya pesan makanan jadi sama mahasiswa Indonesia di Samsun aja makmer pasang mimik muntah ke makanan saya. Lah ini kok dia nyuruh saya bawa makanan sendiri. Ini keajaiban dunia saudara-saudara.

Dengan kejadian ini saya pikir saya sudah berdamai dengan mertua saya yang tadinya saya pikir nggak bakalan bisa berubah. Kekuatan doa bisa merubah semuanya walau nggak berubah total, tapi udah alhamdulillah.

Semua ini nggak lepas juga dari campur tangan mamak dan keluarga saya di Indonesia. Yes, 2018 saya putuskan cerita ke keluarga di Indonesia karena saya tau mereka sangat bijak dan tidak akan memojokkan keluarga suami saya apalagi nyuruh pisah.

Mereka nyuruh saya banyak-banyak sabar, solat dan maklum sama tingkah polah makmer yang udah 85 tahun. Tapi makmer saya masih sehat walafiat. Beraktifitas seperti orang muda, makanya masih bisa ngurusin rumahtangga anaknya dan masih kepo 😀 Yah, seenggaknya cerita ke keluarga itu bisa bikin adem dan ngurangin beban.

Berumahtangga itu sangat kompleks. Kalau nyerah gitu aja nggak bakalan ada orang yang langgeng pernikahannya karena semua pernikahan itu pasti ada cobaan dan masalahnya masing-masing.

Buat gelinlar yang masih struggling sama mertuanya, saya doakan mertuanya juga bisa berubah dan kalian senantiasa diberikan kesabaran seluas samudera dan juga kebahagiaan. Intinya lakukan deep conversation sama suami dan ingat hal-hal romantis serta membahagiakan dalam rumahtangga kalian. Itu juga bisa jadi mood booster buat nururin emosi menghadapi pasangan yang juga hanya manusia biasa.

0



Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog