Mengunjungi Saklıkent Canyon, Ngarai Terpanjang Ketiga di Eropa

Day 3 di Fethiye,

Kami sudah bersiap-siap dari hari sebelumnya untuk perjalanan hari ini. Tidur dan istirahat yang cukup, serta banyak baca tentang Saklıkent Canyon, ngarai terpanjang ketiga di Eropa setelah Verdon Canyon di Perancis dan Vikos di Yunani.

Saklıkent Canyon berada di Provinsi Muğla. Dari pusat kota Fethiye memakan waktu sekitar satu jam, sedangkan dari Ölüdeniz tempat kami menginap dibutuhkan waktu satu setengah jam. Dari hotel kami naik dolmus sampai ke Fethiye. Dilanjutkan dengan dolmus arah Saklıkent Canyon yang datangnya setiap setengah jam sekali. Ongkos dolmus dari hotel sampai ke Saklıkent Canyon pulang pergi sekitar 30 lira atau sekitar 60 ribu rupiah. Termasuk murah untuk ukuran jarak yang lumayan jauh dan suasana angkot ala Turki ini nyaman ber-AC.

Saklıkent dalam bahasa Turki berarti “Hidden City”. Sejak tahun 2016 ngarai sepanjang 18km dengan kedalaman 300m ini resmi menjadi taman nasional dan mulai dibuka untuk umum. Pengunjung dikenai biaya tiket masuk sebesar 8 lira atau setara dengan 18 ribu rupiah. Bukan jumlah yang besar dibandingkan dengan apa yang kita dapatkan dari Saklıkent Canyon.

Begitu turun dari dolmus, kami dihadiahi pemandangan menakjubkan. Suara air sungai yang syahdu dan dua tebing berwarna putih kekuningan di kanan kirinya jelas sekali membuktikan kebesaran Allah subhanahuata’ala. Pertama-tama kami melewati sebuah jembatan gantung, lalu masuk ke loket pembelian tiket.

Selain fisik, siapkan juga sepatu tahan air dengan tapak yang tebal karena dasar air di Saklıkent Canyon ini berbatu. Jangan sampai kamu tidak pakai alas kaki karena bisa membuat kaki luka. Klo saya bilang sih cocoknya pake sepatu boot ala pak tani di sawah.

Disini juga disediakan tempat penyewaan sepatu karet. Harganya 5 lira atau sekitar 10 ribu rupiah. Tapi kurang nyaman karena kaki saya sakit dan lecet walaupun pake yang sesuai dengan nomor sepatu saya. Untungnya suasana alam di Saklıkent Canyon ini benar-benar mencuri hati saya. Jadi kaki sakit pun nggak masalah.

Kami mengawali penjelajahan di Saklıkent Canyon dengan bermain-main di air terjun kecil yang bisa langsung dijumpai begitu tiba di Saklıkent Canyon. Meskipun masih musim panas dan cuaca juga masih panas, tapi air disini sangat dingin. Arusnya juga cukup deras. Jadi harap berhati-hati kalau ingin mendekati air terjun kecil ini.

Air terjun kecil

Berhubung udah jauh-jauh datang ke Saklıkent Canyon dan nggak tau kapan bisa balik lagi kesini, saya merasa harus bersentuhan langsung dengan si air terjun. Pelan-pelan bahkan sesekali saya merangkak dan meraba agar tidak terbawa arus dan terinjak batu tajam menuju si air terjun. Setelah sampai, saya duduk dan bersandar di batu yang menjadi tempat mengalirnya air terjun. Secelup dua celup saya tenggelamkan diri kedalam sungai yang tidak terlalu dalam namun sedingin es itu. Mr. Ottoman juga nggak mau ketinggalan. Bergantian kami menikmati air terjun itu. Bukannya apa-apa dan bukan juga nggak mau bersama, apalagi klo bisa berdua-duaan kesana pasti romantis kan 😀 Tapi nggak ada yang fotoin kami. Berhubung ini momen langka, nggak apa-apa lah ya kesananya sendiri-sendiri.

Penjelajahan kami lanjutkan. Kami berjalan melawan arus air. Dibagian belokannya ini yang agak bahaya, arusnya lebih deras karena merupakan pertemuan dua aliran. Tapi disediakan tali untuk pegangan. Saat itu sebenarnya airnya tidak terlalu tinggi, nggak sampe sepinggang saya. Dari yang saya baca katanya debit airnya bisa sampai sedada.

Pengunjung lagi jalan nyebran dengan pegangan tali

Setelah melewati arus yang deras tadi, area selanjutnya airnya justru menyusut seperti air selokan tapi bersih. Dasarnya tetap berbatu, tapi sudah banyak lumpurnya yang membuat air tidak lagi berwarna bening melainkan abu-abu. Konon katanya lumpur disini sangat bagus untuk luluran dan masker. Nggak heran klo hampir semua pengunjung tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung menggunakannya sebagai masker wajah. Bahkan ada yang mengolesi lumpur ini keseluruh bagian tubuh. Saya dan Mr. Ottoman nggak luluran disana, tapi kami masukkan lumpurnya kedalam botol air mineral dan dibawa pulang. Rencana awal mau digunakan di hotel saja. Eh nggak taunya dibawa sampai ke Jerman karena masih tersisa banyak. Tapi beneran lho lumpurnya bikin muka bersih dan lembut.

Kaget ketemu orang yang lulurannya maksimal seluruh badan 😀

Kami harus benar-benar berhati-hati jalan disini. Selain batunya ada yang tajam, sesekali kami harus berhadapan dengan bongkahan batu besar dan licin yang dialiri air deras. Meskipun airnya tidak dalam, kalau terpeleset bisa bahaya.

Semakin berjalan kedalam saya semakin takjub. Dinding-dinding tebing batunya sangat kokoh. Jujur saya belum pernah ke tempat seperti ini walaupun di Indonesia juga ada. Sesekali saya melihat goresan nama pasangan di dinding tebing batu itu. Tapi tidak terlalu banyak dan hanya ditulis menggunakan lumpur yang jika terkena air juga akan lenyap.

Istirahat & pose 🙂

Setelah berjalan sekitar 30 menit akhirnya kami sampai juga di air terjun utama yang berbatasan langsung dengan mulut gua. Kami berhenti disini dan tidak masuk kedalam gua. Duduk diatas batu disamping air terjun sambil makan snack yang sengaja kami bawa. Air dari air terjun sedingin es itu tidak henti-hentinya terpercik ke kami.

Saat kami datang tidak ada orang disana. Tapi nggak lama kemudian banyak orang berdatangan. Memang tepat sekali kami datang di akhir bulan September. Selain pengunjung sudah tidak terlalu ramai, cuaca masih mendukung.

Air terjun didepan mulut gua

Cukup lama kami duduk disana sambil memperhatikan tingkah polah pengunjung lain saat tiba di air terjun. Ada yang biasa saja, ada yang jerit-jerit kegirangan, juga ada sekelompok anak muda yang saya perkirakan dari India ataupun negara serumpunnya nekad mandi dibawahnya tanpa baju. Nggak cuma sebentar, mereka nggak pergi-pergi dari sana. Puluhan foto dan pose sepertinya nggak cukup buat mereka. Sampai akhirnya tempat ini kembali kosong dan kami sempatkan juga mandi dibawahnya dan foto-foto.

Setelah puas menikmati air terjun, kami pun jalan kembali ke titik awal kami datang. Setelah mengembalikan sepatu karet yang kami sewa, kami duduk sebentar minum teh seharga 3 lira dan makan jagung rebus seharga 5 lira. Sayangnya jagung rebus Mr. Ottoman kurang matang dan dia kecewa.

Sebenarnya ada jasa tour yang menyediakan perjalanan kesini. Biasanya dilakukan dengan jeep safari. Kegiatan dimulai di pagi hari dengan mengunjungi Tlos, kawasan peninggalan peradaban kuno yang sudah berumur 4000 tahun. Banyak pilhan kegiatan lainnya seperti rafting dan outbound. Harga bisa dicari yang sesuai isi kantong. Kami nggak ambil paket tour karena saya mau berlama-lama di Saklıkent Canyon saja. Kalau ikut tour waktu kita dibatasi sesuai jadwal mereka.

Kalau punya waktu luang bisa duduk-duduk di kafe pinggir sungai. Mr. Ottoman nggak mau duduk disini karena katanya makanannya kurang higienis. Sistemnya self service, jadi nggak akan ada yang bawain pesanan kita. Ada satu lagi kafe-kafe pinggir sungai yang instagramable yang juga udah saya intip-intip di instagram. Waktu kami sudah keluar dari pintu masuk, saya tidak menemukan tempat itu. Akhirnya kami masuk ke dalam dolmus dan berencana pulang. Begitu dolmusnya jalan, saya lihatlah kafe-kafe cantik itu. Kecewa donk karena nggak bisa turun lagi. Mr. Ottoman juga udah bayar dan dolmus terakhir ke Fethiye itu jam 19.30. Tapi besoknya ada temen yang cerita klo masuk kesitu bayar dan nggak boleh foto-foto pake kamera sendiri. Harus difotoin sama fotografer mereka. Harganya juga lumayan. Akhirnya kekecewaan saya hilang 😀

Oh ya, kalau mau bersih-bersih dan ganti baju setelah keluar loket dan ngelewatin jembatan ada toilet umum. Pas di lokasi kafe pinggir sungai. Yang ini nggak bayar. Jangan di toilet di seberangnya karena bayar 1 lira. Tapi klo kamu kelebihan uang ya sah-sah aja sih.

Akhirnya kami nyampe hotel jam 8 malam dan langsung ke restoran untuk makan malam. Liburan hari keempat berakhir dengan lelah, kaki lecet dan luka tapi penuh dengan suka cita.

To be continued…!!!

0



Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog