Volendam, Si Desa Nelayan Ala Belanda

Hari ketiga di Belanda, hari ini agendanya ke Volendam. Sudah lama saya dengar cerita-cerita perjalanan orang-orang tentang Volendam, Desa Nelayan Ala Belanda. Tapi percayalah, sebanyak apapun kita baca cerita orang dan juga googling, dilapangan semuanya akan berbeda.

Dari Landal Dunimar ke Volendam itu membutuhkan waktu sekitar 50 menit. Lumayan susah nyari parkir mobil di Volendam. Banyak sih tempat parkir, tapi kebetulan hari itu hari minggu dan banyak turis. Sempat muter-muter ditempat parkir nungguin kalau-kalau ada mobil yang keluar. Awalnya ada satu mobil yang dari tanda-tandanya udah mau keluar. Waktu kami tanya katanya nggak, eh taunya memang itu mobil keluar dan jadilah diambil sama orang lain. Akhirnya kami dapat parkir setelah ada orang Malaysia yang keluar.

Volendam ini cantik banget. Arsitekturnya sebenarnya arsitektur abad pertengahan. Rumah-rumahnya dari kayu dengan cat mayoritas hijau tua terang. Ada juga masyarakat sekitar yang mengecat rumahnya dengan cat warna lain yang juga jreng. Tapi di mata saya kok bangunan-bangunannya jadi tampak lebih modern dan shabby ya. Dibandingkan bangunan-bangunan di Jerman, rumah-rumah disini menurut saya lebih modis.

Outlet Pizza Domino

Berangkat dari Landal Dunimar udah jam 11, ditambah nyari-nyari tempat parkir jadinya udah jam setengah satu aja. Jalan sedikit dari tempat parkir, eh ada outletnya pizza Domino. Langsung kami pesan satu pizza double cheese. Perjalanan belum dimulai udah makan aja πŸ˜€ Tapi asli, pizzanya enak banget dan murah lagi. Nggak nyampe 10 euro untuk ukuran normalnya orang Eropa dan kenyang dimakan berdua.

Nggak ngabisin waktu lama buat makan, kami lanjut jalan lagi. Entah karena hari ini hari minggu, cuaca cerah atau memang Volendam selalu begini. Yang pasti siang itu Volendam sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Yah tapi mau gimana lagi, nggak mungkin kan pulang lagi dan kesini cuma makan pizza Domino aja. Whatever, perjalanan ini harus tetap berlanjut.

Kami menyusuri pinggiran dermaga, berjalan menepi kebagian diseberangnya yang agak sunyi melewati kapal-kapal yang bersandar. Sejenak kami duduk-duduk di kursi yang berhadapan dengan kapal dengan latar rumah-rumah kayu hijau tua beratap orange. Dari sisi lainnya terdengar musik yang sangat kuat, semakin membuat suasana yang mulai panas semakin panas.

“Bang, nanti kita beli kapal pesiar yang begini ya!” Ucap saya kepada Mr. Ottoman saat pandangan kami sama-sama tertuju ke sebuah kapal pesiar kecil tapi mewah.

“Iya, tahun depan.” Jawab Mr. Ottoman.

Jangan dianggap terlalu serius gaes πŸ˜€ Kami berdua memang hobi sekali berkhayal. Saat saya sudah mulai pembicaraan-pembicaraan seperti itu, biasanya Mr. Ottoman langsung nyambung. Memang, kami ini tampaknya sehati πŸ˜‰ Tapi bukankah semuanya itu berawal dari mimpi! Bisa menginjakkan kaki di Eropa pun dulu hanyalah mimpi bagi saya.

Pose didepan kapal orang πŸ˜€

Kembali ke cerita Volendam, si desa nelayan ala Belanda. Sudah cukup kami rasa memandangi kapal-kapal milik orang, kamipun balik lagi ketempat awal tadi. Disini berjajar restotan dan toko souvenir. Ada satu toko yang sangat akrab dengan orang Indonesia, namanya De Broer. Toko ini sudah sering wara wiri di pertelevisian Indonesia. Setiap ada liputan ke Volendam, pasti toko ini juga diliput.

Toko ini menjual aneka jenis souvenir sekaligus sebagai studio foto dengan pakaian khas Belanda. Ini loh studio foto yang memajang foto-foto artis dan orang terkenal Indonesia di etalasenya sebagai pemikat turis Indonesia. Cara itupun sangat ampuh. Umumnya turis-turis Indonesia pasti singgah kesini. Nggak tanggung-tanggung, mereka juga menuliskan promosi harga dalam Bahasa Indonesia.

Souvenir diskon toko De Broer yang ditulis dalam Bahasa Indonesia

Masuk kedalam De Broer itu seperti pulang ke Indonesia. Pengunjungnya semua orang Indonesia, bahasa yang didengar juga Bahasa Indonesia. Awalnya kami juga mau foto disini, tapi karena antriannya panjang banget jadinya kami batalkan. Saya cuma beli oleh-oleh aja disini.

Dari De Broer kami jalan terus sampe ke Cheese Factory yang juga jadi iconnya Volendam. Cheese Factory ini adalah museum sekaligus toko keju yang sudah melegenda. Didalamnya kita juga bisa belajar banyak tentang keju. Pssssstttttt……ada tester keju gratisan juga loh disini. Saya nyoba keju cabe πŸ˜€ Enak rasanya, nggak kek keju yang original bau kaki.

Cheese Factory

Sebenernya masih ada tempat-tempat lain yang jadi icon wisatanya Volendam seperti museum dan desa Edam tempatnya si keju edam. Tapi kami nggak kesana karena Mr. Ottoman udah keburu nggak mood karena lautan manusia.

Kami jalan balik ketempat awal masuk tadi. Tapi sebelumnya beli es krim dan dengerin musisi jalanannya Volendam. Juga ngeliatin orang-orang yang lagi pesta diatas kapal pesiar besar. Ada juga penjual ikan asap unik yang ngasepin ikannya didalam tong gitu. Lucu deh. Mana abang-abang tukang ikannya cakep lagi πŸ˜€

Satu hal unik dari orang Indonesia yang saya temui di Volendam. Makannya tetap lesehan dong. Jadi di Volendam itu banyak sekali turis Indonesia. Beberapa saya lihat makan lesehan di trotoar, bahkan ada yang ngemper didepan toko orang. Saya sih nggak masalah ya, tapi Mr. Ottoman ngeliatnya geli. Dia bilang “kan banyak tuh kursi gratis dipinggir dermaga, kenapa harus ngemper ditanah gitu?”

Jalan balik menuju tempat parkir juga bikin mata adem ngeliat rumah-rumah cantiknya warga Volendam. Rumahnya pendek dan imut. Jadi pengen juga buat rumah begitu.

Dari Volendam Mr. Ottoman ngajak ke Pantai santai-santai. Nanti kita lanjut lagi ya cerita di pantainya…

 

0



Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog