Kami Menikah Tanpa Cinta

Dulu di hari-hari pertama pernikahan kami banyak sekali teman dan saudara yang bertanya-tanya, “Kenapa secepat itu menikahnya?” atau orang-orang yang sekedar kenal juga sering tanya “Kok tiba-tiba nikah?”.

Wajar aja sih klo semua orang bertanya-tanya kenapa tiba-tiba nikah, khususnya orang-orang terdekat saya yang tau persis cerita hidup saya. Saya ke Jerman itu selain karena sudah jadi mimpi saya dari dulu juga untuk menyembuhkan hati yang terluka parah. Awalnya saya berencana tidak akan menikah untuk beberapa tahun kedepan dan memilih hidup sendiri. Tapi mana bisa kita manusia menolak ketentuan Allah.

Sebelum saya dan Mr. Ottoman bertemu secara langsung untuk yang pertama kalinya, kami hanya berkomunikasi melalui telepon. Tujuan saya sih untuk memperlancar Bahasa Jerman saya. Kami sering bercerita soal masa depan dan cita-cita, tentang hal-hal apa saja yang ingin kami raih. Hal itu yang mungkin membuat kami merasa cocok satu sama lain.

Bukan cuma tentang impian, kadang Mr. Ottoman ngajakin main tebak-tebakan. Tau nggak apa tebak-tebakannya? MATEMATIKA. Dalam Bahasa Jerman pula 😀 Dia memang jagonya matematika. Bahkan saya menemukan raportnya saat sekolah dulu, yang paling tinggi itu nilai matematika. Dia selalu dapat nilai 1 dan 2. Padahal katanya dia nggak pernah belajar di rumah. Ujian ya ujian aja gitu, nggak ada ngulang-ngulang pelajaran.

Jelaslah saya tolak main tebak-tebakan matematika, lah saya kan dulu jurusan Bahasa. Sengaja malah milih jurusan Bahasa untuk menghindari matematika, walaupun tetap aja ada pelajaran matematika karena termasuk mata pelajaran umum.

Saat itu saya menganggap Mr. Ottoman benar-benar seperti teman. Saya merasa cocok sekali berteman dengan dia. Obrolannya nyambung karena dia pintar. Ngomongin agama juga ok karena seiman, jadi saya nggak susah-susah ngejelasin ini itu lagi soal islam. Palingan cuma ada perbedaan yang sunnah-sunnah karena orang Turki menganut mazhab hanafi.

Mr. Ottoman juga bilang saat itu dia tidak menganggap saya sebagai seorang wanita yang dia cintai karena memang dia nggak cinta. Jujur banget kan dia. Iya, dia memang jujur. Apa-apa dibilang yang sejujur-jujurnya walaupun itu menyakitkan 😀 Tapi dia merasa cocok dengan saya yang dianggapnya punya pikiran maju dan nyambung diajak diskusi apapun.

Mungkin karena kecocokan itulah Mr. Ottoman ngajak saya nikah dipertemuan pertama kami. Kaget nggak tuh pertama ketemu langsung ngajak nikah. Nggak tau emak bapaknya siapa, gimana keluarganya dan bla bla bla lainnya. Tapi dia kasih tau soal pekerjaan dan gajinya sampe ke hal apa-apa aja yang harus dia bayar saat itu setiap bulannya. Langsung mikir dong, buat apa coba laporan gitu.

Cerita tentang pertemuan kami sampe menikah itu udah pernah saya tulis di artikel yang judulnya “Tentang Jodoh”. Disini saya mau bahas gimana bisa kami nikah tanpa adanya cinta dan tanpa saling jatuh cinta. Lucu kan kalau dipikir-pikir. Dulu ngaku-ngaku cinta sama lawan jenis, padahal itu nggak halal dan ada aja yang mengganjal klo diajak nikah. Sampe berkali-kali diajak nikah pun hati ini tetap aja kurang mantap untuk nikah sama orang dimasa lalu itu.

Saya dan Mr. Ottoman itu benar-benar seperti sahabat. Hampir nggak pernah berantem. Becanda pukul-pukulan udah kek laki-laki sama laki-laki. Setiap hari ngelawak udah kek diacaranya sule. Bener-bener susah serius kami setiap harinya kecuali klo saya lagi marah besar 😀

Itulah kenapa menikah itu disebut ibadah dan merupakan setengah dari agama. Tentunya menikah dengan jalan yang benar. Banyak sekali rahmat dari sebuah pernikahan. Karena hubungan kami berawal dari hubungan pertemanan, setelah menikahpun tetap sama. Bedanya ada rasa saling memiliki dan lambat laut pastinya muncul rasa-rasa yang lainnya yaitu cinta (Uhuy….)

Memang setelah adanya ikatan pernikahan itu semuanya jadi berbeda. Tiba-tiba ada semacam aliran listrik yang menyambungkan hatinya dan hati saya (duh…kalau Mr. Ottoman baca kalimat ini bisa-bisa saya diketawain habis-habisan).

Seriously dulu pertama jumpa Mr. Ottoman itu saya nggak make up, bikin alis juga belum bisa. Pake eyeliner dan blush on juga nggak ngerti. Kebayang dong saya yang dilihat Mr. Ottoman pertama kalinya itu gimana. Natural banget. Kadang aja saya mikir ya, cewek-cewek Turki itu cantik-cantik. Nggak make up aja mereka udah cantik. Saya aja yang cewek suka gemes ngeliatnya. Masa iya Mr. Ottoman nggak tertarik.

Kata Mr. Ottoman cinta itu bukan soal rupa tapi hati. Saya jadi bertanya-tanya lagi, baik-baik banget saya juga nggak 😀 Dia jawab lagi, menikah itu untuk menyempurnakan yang tidak sempurna. Jadi katanya kami sama-sama kurang baik. Karena itu kami menikah supaya jadi lebih baik dan bersama-sama menjadi manusia yang baik.

Mr. Ottoman juga bilang, saya adalah satu-satunya wanita yang nggak tertarik melihat mobilnya (lah…saya aja nggak ngerti soal mobil). Dia lihat waktu kami pertama kami bertemu, reaksi saya biasa aja saat ngeliat mobil Mercedez Benznya yang bisa buka tutup atasnya. Juga saya nggak nanya apa-apa soal mobilnya. Katanya saya satu-satunya perempuan yang nggak nanya-nanya soal mobilnya.

Sampai disini saya masih aja penasaran kenapa Mr. Ottoman nggak tertarik sama perempuan Turki. Banyak kok perempuan Turki yang baik, baik plus cantik juga ada. Dia jawab, dia nggak tertarik sama perempuan berhidung mancung 😀 Astagah…!!! Entahlah…!!! Entah ini serius atau dia cuma becanda. Yang pasti dia juga ingin anaknya berhidung minimalis seperti saya (Plis reader, jangan aminkan yang ini). Cukuplah saya saja yang berhidung minimalis di keluarga kami nantinya. Nggak cuma itu, dia juga ingin anaknya berkulit coklat. Menurutnya itu menggemaskan 🙁

Untuk menikahi wanita Turki itu membutuhkan banyak sekali biaya. Biasanya pihak keluarga si wanita pasti banyak mintanya. Bukan berarti wanita Indonesia itu murah lho. Tapi saya memang tipe orang yang nggak mau ribet. Alhamdulillah keluarga saya di Indonesia juga nggak banyak tuntutan. Saya tau keadaan Mr. Ottoman saat itu. Makanya saya nggak mau pesta ala Turki yang bisa ngabisin duit ratusan juta. Itu juga yang buat Mr. Ottoman simpatik sama saya. Padahal dia bilang kalau saya mau pesta ala Turki, dia bisa usahain duitnya.

Pesta di Indonesia pun kami nggak ribet-ribet. Cuma ngabisin uang 4000 euro aja karena konsepnya juga piknik keluarga. Tujuan saya bukan pesta sebenarnya, tapi kumpul keluarga dan teman-teman dekat. Itu aja sih.

Dulu saya mikir gimana orang-orang jaman dulu yang nikah tapi nggak cinta. Eh…taunya saya ngalamin sendiri dan itu asyik asalkan kita sama-sama tau apa tujuan pernikahan itu dan juga ada kecocokan soal bagaimana menjalani hidup kedepannya.

Setelah menikah, serumah dan setempat tidur, cinta itu datang tanpa diundang. Parahnya Mr. Ottoman nggak mau jauh-jauh dari saya. Gerak aja susah udah kek punya bayi 😀 Mr. Ottoman itu cuma bisa ditinggal sebentar aja, misalnya ke pengajian atau kumpul-kumpul sama teman-teman yang nggak nginap. Klo mau nginap tanpa dia itu rasanya nggak mungkin kecuali mudik ke Indonesia. Iya juga sih, dia aja nggak pernah pergi-pergi ninggalin saya selain kerja.

Jadi, saya cuma mau bilang, menikah tanpa cinta itu mungkin banget asalkan punya tujuan hidup yang searah dan terus memupuk cinta setelah menikah. Bukan jatuh cinta yang diperlukan dalam pernikahan, tapi membangun cinta dan itulah yang terus kami lakukan sampai hari ini.

0



2 Comments

hidung minimalis hehehe..lg kerja sambil baca blog ini , senyum2 sendiri 😀

Reply

wow menarik dari judulnya, bacanya jg ckikikan sendiri.. jodoh emang gak kmana 😄

Reply
Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog