Bad Hindelang || Surga Kecil di Kaki Pegunungan Alpen 2


Pagi terakhir di Bad Hindelang, saya dan Mr. Ottoman bangun kesiangan karena hari sebelumnya tenaga kami benar-benar dikuras untuk naik turun bukit di Istana Neuschwanstein. Rencana saya untuk mengabadikan momen pergantian gelap ke terang pun kacau. Hari sebelumnya saya berhasil mengabadikan momen itu dari sisi yang lain.

Bad Hindelang adalah desa yang sangat indah. Saya ingin mengabadikan setiap momen dari segala sisi disana. Buru-buru saya merapikan barang-barang kami sambil memasak teh Turki dan makanan untuk sarapan.

Setelah berpamitan dengan  Anja si pemilik apartemen tempat kami menginap yang kebetulan lewat, kami jalan-jalan sebentar di desa yang bak surga kecil di kaki Pegunungan Alpen ini.

Saya benar-benar menyukai tempat indah ini. Hanya berjalan beberapa langkah, suara gemericik air sungai terdengar syahdu dan menenangkan hati. Saya tertawa geli mendengar nama sungai itu. Namanya Sungai Iller. Tapi airnya sangat jernih berwarna biru tosca. Bebatuan tampak mendominasi di sungai yang tidak dalam ini.

Kami duduk dan diam. Hal seperti inilah yang paling kami sukai. Menikmati alam tanpa mendengar suara-suara kendaraan khas kehidupan perkotaan. Yang terdengar hanya suara air mengalir yang membentuk nada-nada indah. Tidak ada orang lain disini, hanya kami berdua.

Di musim panas sangat cocok piknik seharian sambil barbeque-an dipinggiran sungai ini. Apalagi kalau bisa solat disana, pasti akan sangat khusuk bercengkrama dengan Sang Pencipta yang telah menciptakan tempat seindah ini.

Sungai Iller

Puas bermeditasi di Sungai Iller, kami naik keatas. Putih menyelimuti tanah-tanah coklat yang membuatnya semakin kedinginan. Semua tertutup salju putih. Diatas jembatan Sungai Iller, salju yang menutupi jembatan itu tak lagi selembut es serut. Ia ibarat es batu yang sudah berhari-hari berada didalam kulkas, keras, licin dan sangat dingin.

Saya hampir terpeleset saat melewati jembatan ini. Langkah kaki saya pun benar-benar saya perlambat supaya tidak terpeleset.

Di dua sisi Sungai Iller ada dua hamparan ladang salju yang biasanya dijadikan tempat bermain ski amatiran. Tempat ini tidak seperti di Oberjoch yang berbayar. Orang-orang bebas bermain ski di lapangan salju ini. Tentunya peralatan dan resiko ditanggung masing-masing.

Saya berdiri ditengah-tengah lapangan itu. Sementara Mr. Ottoman hanya berdiri dipinggirannya. Dia memang tidak begitu menyukai salju dan musim dingin. Liburan kali ini saja adalah keinginan saya. Dia lebih suka liburan di musim panas supaya kulitnya coklat (Huft…lelaki Turki ini masih tetap terobsesi punya kulit coklat).

Meskipun tidak suka dinginnya musim dingin yang tembus sampai ke rongga terkecil tubuh, saya senang bermain dengan salju. Sayangnya di Stuttgart tidak banyak turun salju, tidak seperti disini yang rutin turun salju.

Diujung jalan ini ada fasilitas kereta gantung untuk sampai ke puncak gunung yang terlihat berujung runcing itu. Awalnya kami ingin naik kereta itu. Tapi ternyata keretanya hanya untuk sekali jalan. Turunnya harus jalan kaki yang bisa memakan waktu 3 jam. Untuk ukuran orang Indonesia berbadan kecil seperti saya pasti bisa sampai 4 atau 5 jam. Akhirnya kami batalkan niat itu dan memilih pulang ke Stuttgart.

Mr. Ottoman tidak mau pulang terlalu siang karena di hari itu diperkirakan akan turun salju. Kalau terlalu banyak salju, otomatis jalan ditutup dan kami tidak bisa pulang.

Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada Bad Hindelang, desa cantik layaknya surga di kaki Pegunungan Alpen. Berat rasanya meninggalkan tempat sunyi yang menenangkan jiwa saya ini. Saya berharap bisa kembali lagi kesini di musim yang berbeda.

Artikel sebelumnya

Allgäu || Surga Kecil di Kaki Pegunungan Alpen

0



Schreiben Sie einen Kommentar

Your e-mail will not be published. All required Fields are marked

Scroll Up Scroll Up

Thank you for visiting my blog